Perkembangan Agama Hindu dan Budha Di Indonesia
A. Pasca Kerajaan Hindu Budha
Kerajaan Budha terakhir ialah kerajaan Sriwijaya yang muncul pada abad ke-6, pada mulanya berpusat di sekitar Sungai Batanghari, pantai timur Sumatra. Pada perkembangannya, wilayah kerajaan Sriwijaya meluas hingga meliputi wilayah Kerajaan Melayu, Semenanjung Malaya, dan Sunda (kini wilayah Jawa Barat). Catatan mengenai kerajaan-kerajaan di Sumatra didapat dari seorang pendeta Buddha bernama I-Tsing yang pernah tinggal di Sriwijaya antara tahun 685-689 M. Pada tahun 692, ketika I-Tsing, bias disimpilkan bahwa Sriwijaya telah menaklukan dan menguasai kerajaan-kerajaan disekitarnya.
Raja kerajaan Sriwijaya yang terakhir adalah Sri Sanggrama Wijayatunggawarman. Pada masa pemerintahan Sri Sanggrama Wijayatunggawarman, hubungan Kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Chola dari India yang semula sangat erat mulai renggang. Hal itu disebabkan oleh seranggan yang dilancarkan Kerajaan Chola di bawah pimpinan Rajendracoladewa atas wilayah Sriwijaya di semenanjung Malaya. Serangan-serangan tersebut menyebabkan kemunduran kerajaan Sriwijaya.
Setelah kemunduran Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Bercorak Hindu Budha di Jawa pun mulai runtuh. penyebabnya antara lain adalah munculnya kerajaan Islam dan datang nya Penjajah Ke Pulau Jawa.
B. Pada Masa Penjajahan Sampai Kemerdekaan
Pada zaman penjajahan di Indonesia hanya dikenal tiga nama agama yaitu agama Islam, Kristen Protestan, dan Katolik. Sedangkan agama Buddha tidak disebut-sebut. Ini merupakan sikap politik Hindia Belanda pada waktu itu. Bisa dilihat dari anggapan tersebut seakan-akan Buddha sudah sirna di Indonesia namun manifestasi agama Buddha dalam budaya dan tradisi masih ada dan banyak ditemui di Indonesia. Pada saat itu para terpelajar Hindia Belanda dan Indonesia membuat perhimpunan Theosofi Indonesia. Setelah merdeka menjadi perintis kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia.
C. Hindu dan Buddha Pada Masa Reformasi Hingga Sekarang
KASI adalah perhimpunan Sangha-Sangha (Persaudaraan Para Bhikkhu-Bhiksu) dalam suatu persidangan (konferensi) Agung, dengan berpedoman pada kitab suci agama Buddha (Tipitaka Pali, Tripitaka Mahayana, Tripitaka Tibet/Kanjur), lembaga ini sebagai pengambilan keputusan berpedoman Dhamma (Dhammaniyoga). Meskipun KASI merupakan perhimpunan Sangha-Sangha yang anggota pengurusnya adalah para Bhikkhu/Bhiksu, namun KASI juga tetap melibatkan umat awam sebagai pembantu para Sangha. Pada hari rabu tanggal 4 Agustus 1999 pukul 14.00, konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) beserta pimpinan majelis-majelis agama Buddha yang terkait dengan KASI akan bertemu dengan Menteri Agama, Prof. Drs. Malik Fadjar, Msc. Majelis-majelis agama Buddha yang terkait dengan KASI adalah majelis Buddhayana Indonesia (MBI), Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia (MAJABUMI), Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi), dan Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia.
Sumber :
1. history1978.wordpress.com/perangkat-sejarah/sejarah-kelas-xi-ipa/perkembangan-kerajaan-hindu-budha-di-indonesia/
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu_di_Nusantara
Komentar
Posting Komentar