PENIGNGGALAN PRASASTI KUTAI :
5. Prasasti Jambu
3. Candi Bima
PENINGGALAN SENI UKIR :
Prasasti ini dibuat pada tahun 782 Masehi dan terdapat di
daerah dekat Candi Lumbung, Prambanan, Jawa Tengah. Prasasti tersebut isinya
ditulid dengan menggunakan Bahasa Sanksekerta dengan aksara Pranagari. Di dalam
prasasti itu terdapat informasi tentang dibuatkannya candi Sewu atas perintah
raja Indra yang mana raja Indra adalah raja yang berkuasa pada saat itu.
1. Prasasti Yupa
Prasasti Yupa merupakan salah satu dari peninggalan Kerajaan Kutai tertua
dan benda ini menjadi bukti sejarah dari Kerajaan Hindu di Kalimantan tersebut.
Ada 7 prasasti Yuoa yang masih bisa dilihat hingga kini. Yupa merupakan tiang
batu yang dipakai untuk mengikat kurban hewan ataupun manusia yang
dipersembahkan pada para Dewa dan pada tiang batu tersebut terdapat tulisan
yang dipahat. Tulisan-tulisan tersebut ditulis memakai bahasa sansekerta atau
huruf Pallawa. Namun dari ketujuh Prasasti Yupa tersebut tidak ada yang
disertai dengan tahun pembuatannya sehingga tidak diketahui dengan pasti
tanggal pembuatan prasasti tersebut.
2. Ketopong Sultan
Ketopong merupakan mahkota Sultan KerajaanKutai yang terbuat dari emas
dengan bobot 1.98 kg yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
Ketopong Sultan Kutai ini ditemukan pada tahun 1890 di daerah Muara Kaman,
Kutai Kartanegara, sementara yang dipajang di Museum Mulawarman merupakan
Ketopong tiruan. mahkota ini pernah dipakai oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman
dari tahun 1845 sampai 1899 dan juga dikenakan oleh Sultan Kutai Kartanegara,
selain terbuat dari emas, mahkota ini juga dilengkapi dengan permata.
3. Kalung Uncal
Kalung Uncal merupakan kalung yang terbuat dari emas seberat 170 gram
berhiaskan liontin dengan relief cerita Ramayana. Kalung ini digunakan sebagai
atribut Kerajaan Kutai Martadipura dan dipakai oleh Sultan Kutai Kartanegara
sesudah Kutai Martadipura berhasil ditaklukan. Dari penelitian yang sudah
dilakukan, Kalung Uncal berasal dari india dengan nama Unchele dan masih ada 2
Kalung Uncal di dunia yang berada di India dan juga di Museum Mulawarman, Kota
Tenggarong. Kalung ini berbentuk buklat dengan panjang 9 cm yang terbuat dari
emas 18 karat. Pada kalung ini juga terdapat ukiran Dewi Sinta serta Sri Rama
yang sedang memanah babi. Selain itu juga terdapat 4 buah bulatan dan 2
diantaranya dihiasi dengan batu permata. Kalung ini juga menjadi penentu sah
atau tidaknya pelantikan Raja Kutai.
berikut ini adalah
peninggalan prasasti-prasasti kerajaan Tarmanegara :
1. Prasasti Ciaruteun
Prasasti ini
sendiri memiliki daya tarik yang luar biasa dimana prasasti ini terdapat
lukisan laba-laba serta tapak kaki yang dipahatkan di sebelah atas hurufnya.
Prasasti ini memiliki empat baris aksara Pallawa yang disusun dalam bahasa Sanskerta yang ditulis dalam bentuk puisi India dengan
Irama anustubh. Yang artinya sebagai berikut :
“Inilah
sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah telapak yang
mulia sang Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”
Berdasarkan isi prasasti
tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan
raja Purnawarman yang saat itu memerintah di Kerajaan Tarumanegara. Apabila
kita lihat isi dari Prasasti tersebut kita dapat mengetahui bahwa Raja
Purnawarman ingin menunjukkan kepada rakyatnya bahwa dia adalah seorang raja
yang sangat gagah berani di dunia. Hal itu ditandai dengan cap sepasang telapak
kakinya yang bagaikan Dewa Wisnu. Perlu Anda ketahui bahwa telapak kaki ini
melambangkan kekuasaan Purnawarman atas daerah saat ditemukannya prasasti.
2. Prasasti Tugu
Prasasti yang
satu ini bernama Prasasti Tugu, prasasti ini merupakan prasasti yang berasal
dari kerajaan Tarumanegara. Prasasti Tugu isinya menceritakan tentang adanya
penggalian Sungai Candrabaga oleh rajadirajaguru serta penggalian sungai Gomati
oleh Purnawarman . Perlu kita ketahui penggalian sungai tersebut adalah gagasan
Untuk menghindari terjadinya bencana alam berupa banjir yang sering terjadi
dan juga kekeringan yang terjadi pada saat musim kemarau pada
pemerintahan purnawarman.
3. Prasasti Muara Cianten
3. Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara
Cianten adalah merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang
ditemukan oleh N.W. Hoepermans yaitu pada tahun 1864. Prasasti Ini pertama kali
ditemukan di pasir Muara persawahan yang letaknya di tepi sungai Cisadane
dengan lokasi berdekatan dengan Muara Cianten. Prasati muara cianten dahulu dikenal dengan sebutan
prasasti pasir Muara karena lokasinya yang masuk ke wilayah Kampung Pasir
Muara. Prasasti ini berisikan pesan yaitu bahwa pada tahun 854 Masehi
pemerintahan negara telah dikembalikan di kerajaanSunda.
4. Prasasti Cidanghiyang
4. Prasasti Cidanghiyang
Prasasti cidanghiyang pertama kali dilaporkan ke dinas
purbakala pada tahun 1947 oleh Toebagus Roesjan, akan tetapi prasasti ini baru
diteliti pada tahun 1954. Prasasti cidanghiyang memiliki beberapa baris kalimat
puisi yang ditulis dengan huruf Pallawa yang dibuat dengan menggunakan bahasa
Sansekerta, puisi tersebut berisikan pujian serta pengagungan terhadap Raja
Kerajaan Tarumanegara pada saat itu yakni Raja Purnawarman. Lokasi Prasasti
Cidanghiyang yakni di tepi sungai Cidanghiyang yaitu di desa Lebak, Kecamatan
Munjul.
5. Prasasti Jambu
Prasasti
peninggalan kerajaan Tarumanegara berikutnya adalah Prasasti Jambu atau sering
disebut juga pasir kolengkak. Prasasti jambu ini ditemukan dilokasi perkebunan
jambu. Prasasti Jambu Terletak di Pasir Sikolengkak yakni di wilayah Kampung
Pasir Gintung, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung. Kabupaten Bogor.
6. Prasasti
Kebon Kopi I
Prasasti Kebon Kopi I adalah
nama dari Prasasti ini. Dinamai dengan Prasasti Kebon Kopi 1 Karena untuk
membedakannya dengan Prasasti Kebon Kopi II. Prasasti yang merupakan
peninggalan Kerajaan Tarumanegara ini menampilkan bentuk ukiran tapak kaki
gajah yang diperkirakan merupakan tunggangan Raja Purnawarman.
7. Prasasti Kebon Kopi II
Selain Prasasti Kebon Kopi I
Kerajaan Tarumanegara juga meninggalkan peninggalan sejarahnya berupa Prasasti
Kebon Kopi II akan tetapi prasasti ini telah hilang dicuri pada tahun 1940-an.
Menurut pakar F.D.K Bosch yang sempat meneliti prasasti ini, prasasti kebon
kopi II ditulis dalam bahasa melayu kuno yang isinya menyatakan “ Raja sunda
menduduki kembali tahtanya”.
8. Prasasti Pasir Awi
Prasasti peninggalan Kerajaan
Tarumanegara yang terakhir adalah prasasti pasir Awi. Prasasti ini ditemukan
pertama kalinya pada tahun 1864 oleh N.W. Hoepermans. Prasasti ini terletak di
lereng Selatan bukit pasir Awi dengan ketinggian kurang lebih 559 mdpl, yakni
di kawasan hutan perbukitan cipamingkis.
PENINGGALAN CANDI-CANDI :
1. Candi Sewu
Candi sewu sendiri merupakan candi terbesar kedua di Jawa
tengah setelah candi Borobudur yang bercorak budha yang mana kerajaan Mataram
kuno membangunnya sekitar di abad 8 Masehi. Lokasinya berada di desa
Bugisan, kecamatan Prambanan, kabupaten klaten, Jawa tengah.Ternyata candi ini
letaknya sangat dekat dengan candi Prambanan yang jarak kedua candi tersebut
hanya sekitar 800 Meter.Selain itu candi Sewu lebih tua dari dua candi yang ada
di jawa tengah (Candi Borobudur dan candi Prambanan). Hal yang unik dari candi
Sewu adalah, namanya tidak sesuai dengan jumlah candi sebenarnya, yang
manaJumlah asli candinya hanya sekitar 249 saja.Bayangkan namanya sewu kalau
diartikan ke bahasa Indonesia adalah seribu. Usut punya usut ternyata candi ini
berasal dari cerita legenda Roro Jonggrang.
2. Candi Arjuna
Berbeda dengan candi Sewu yang bercorak budha, candi Arjuna
sendiri adalah candi yang bercorak Hindu. Candi Arjuna dibangun pada abad 9
Masehi dan Letaknya candi ini berada di Dataran tinggi Dieng, Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.Selain candi Arjuna di daerah tersebut
juga ada candi lainnya seperti Candi semar, Srikandi, Puntadewa, dan candi
Sembadra. Kalau dilihat dari namanya tersebut berarti masyarakat menamakannya
dengan nama tokoh yang ada di pewayangan.
Candi bima ini juga terletak di daerah Dataran Tinggi Dieng
tepatnya di Banjarnegara, Jawa Tengah. Dibangun pada abad sekitar 7 sampai abad
ke 13 Masehi. Candi ini bercorak Hindu, makanya desainnya pada umumnya terdapat
kesamaan dengan candi yang ada di negara India.Karakteristik dari candi Bima
adalah atapnya hampir sama dengan shikara dan bermodelkan mangkok yang di
telungkupkan. dan di di bagian atas terdapat arca Kudu.Pada zaman dahulu candi
ini digunakan untuk upacara Pradaksina.
4. Candi Borobudur
Inilah candi Terbesar dan terkenal di dunia yang termasuk
dari 7 keajaiban dunia versi UNESCO. Candi ini adalah candi yang bercorak budha
yang letaknya ada di kota Magelang, Jawa tengah.Pembuatannya sendiri dilakukan
di masa dinasti Syailendra oleh pemeluk Budha sekitar tahun 800-an atau abad 8
Masehi.Asal mula Borobudur sendiri baru dinamai ketika Sir Thomas Raflles
menyebutnya di salah satu karya bukunya yang berjudul “Sejarah Pulau Jawa”.
Dalam bukunya tersebut Sir Thomas Raffles menamai Borobudur karena mengacu pada
tempat lokasi terdekat dengannya, yaitu desa Bore dan Budur dari kata Bhudhara
yang berarti gunung.Candi Borobudur letaknya juga berdekatan dengan candi
terkenal lainnya yaitu candi Mendut dan Candi Pawon.
5. Candi Mendut
Selain candi Borobudur, Candi mendut juga termasuk
candi yang bercorak Budha. Letaknya sama dengan candi Borobudur yaitu daerah
Magelang, Jawa Tengah. Candi Mendut tersebut dibuat pada tahun 800-an Masehi
ketika dinasti Syailendra berkuasa tepatnya dibawah kekuasaannya Raja Indra. Di
sekitar dindingnya terdapat banyak sekali jenis relief diantaranya adalah
Brahmana, Hewan Angsa dan Kura-kura, Dharmabuddhi dan Dustabuddhi, dan 2
burung betet.
6. Candi Pawon
Candi lainnya yang juga letaknya berdekatan dengan candi
Borobudur dan Candi Mendut adalah candi Pawon. Sayangnya sejarah akan candi
Pawon ini masih simpang siur dan tidak jelas. Menurut beberapa para peneliti
kata Pawon sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti dapur atau juga bisa
tempat perabuan. Selain itu juga di dalamnya candi tersebut tidak ada arca,
kemungkinan bertambah sulit lagi untuk menelitinya.
7. Candi Puntadewa
Candi ini satu daerah dengan candi Arjuna dan candi lainnya
yang dinamakan di pewayangan. Pada zaman dahulu candi ini digunakan untuk
tempat pemujaan dewa Siwa, tak salah jika coraknya berasal dari India. Dalam
sejarahnya candi ini juga tidak jelas asal-usulnya, namun berdasarkan
penelitian candi ini sudah berusia lebih dari 1000 tahun. Sebenarnya candi ini
tidak terlalu besar amat, hanya saja dia lebih menjulang ke atas.
8. Candi Semar
Candi ini juga berada dalam satu kawasan dengan candi nama
pewayangan lainnya seperti candi Arjuna tepatnya di Dataran Tinggi Dieng. Candi
ini termasuk juga candi Hindu Syiwa yang dibuat oleh kerajaan Mataram
kuno. Menariknya adalah candi ini berhadapan langsung dengan candi
Arjuna. Keunikan lainnya adalah candi ini yang paling pendek dan kecil, ukuran
candinya saja 3,5 m dan 7 m dengan atap yang berbentuk limas. Kegunaan dari candi
ini adalah sebagai tempat penyimpanan peralatan senjata dan pemujaan.
PENINGGALAN SENI UKIR :
1. Seni Ukir Sojomerto
Prasasti ini merupakan peninggalan dari dinasti Syailendra
yang berada di kota Batang, Jawa Tengah. Di prasasti sojomerto sendiri terdapat
tulisan yang menggunakan bahasa Melayu kuno dengan aksara bahasa Kawi. Prasasti
ini berdasarkan penelitian dibuat pada akhir abad 7 atau awal dari abad ke
8.Prasasti Sojomerto dibuat pada saat kerajaan Mataram kuno masih beragama
Hindu Siwa. Di dalam prasasti tersebut terdapat nama-nama keluarga dari
raja-raja dinasti Syailendra terkhusus raja Dapunta Selendra yang memiliki ayah
dan ibu bernama Santanu dan Sampula.
2. Seni Ukir Kalasan
Prasasti kalasan merupakan prasasti peninggalan dari
dinasti Sanjaya Kerajaan Mataram Kuno yang dibuat pada tahun 778 Masehi.
Prasasti ini terdapat di daerah Sleman Jogjakarta. di Prasasti tersebut isinya
menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Pranagari (huruf yang berasal dari
India Utara) Di dalam prasasti Kalasan berisi tentang keberhasilan Guru Sang
Raja dalam merayu Kariyana Panangkara atas permintaan keluarga dinasti
Syailendra supaya bersedia mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara. Selain itu
isinya juga terdapat tentang pemberian hadiah desa Kalasan sebagai tempat biara
bagi para biarawan sebagai tempat suci bagi mereka (Candi Kalasan).
3.Seni Ukir Kelurak
4. Seni Ukir Ratu Boko
Merupakan prasasti yang ditemukan di daerah Baka, yang mana
isinya adalah peperangan saudara antara Balaputra Dewa dengan Rakai Pikatan
yang mana Balaputra Dewa kalah dalam peperangan tersebut. Berdasarkan
penelitian, prasasti ini dibuat pada tahun 856 Masehi
5. Seni Ukir Nalanda
Prasasti milik Kerajaan Mataram kuno yang mana berisi
tentang Balaputra Dewa dan asal-usulnya yang mana dia adalah cucu Raja Indra
dan merupakan putra dari Raja Samarottungga. Berdasarkan penelitian, prasasti
ini dibuat pada tahun 860 Masehi
6.Prasasti Canggal
Prasasti Canggal adalah prasasti peninggalan dari dinasti
Terakhir mataram yaitu Sanjaya yang berisi tentang pembuatan lingga di desa
Kunjarakunja. prasasti ini dibuat pada tahun 732 Masehi ini tulisannya
menggunakan bahasa Sanskerta dan menggunakan huruf Pallawa.
7. Prasasti Mantyasih
Prasasti ini berasal dari dinasti Sanjaya yang didapatkan
di daerah Matesh, Magelang utara, Jawa Tengah. Prasasti ini digunakan sebagai
bukti sah raja Balitung sebagai Raja. Selain itu isi dari prasasti ini adalah
penetapan bebas pajak bagi daerah-daerah tertentu. Dan terakhir dijelaskan
tentang adanya keberadaan gunung Sumbing dan Sindoro.
8. Prasasti Wanua Tengah III
Prasasti yang terakhir dari peninggalan kerajaan Mataram
Kuno adalah prasasti Wanua Tengah. Prasasti ini dibuat pada tahun 908 Masehi
tepatnya di daerah Gandulan, Kaloran. Dalam isi prasasti kerajaan mataram
kuno tersebut disebutkan semua nama-nama raja raja mataram kuno sehingga
keberadaannya sangat penting bagi penelitian selanjutnya.
PENINGGALAN SENI SASTRA
1. Tutur pitutur (keagamaan)
Jawa dan Kejawen seolah tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kejawen bisa jadi merupakan suatu sampul atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang ditanah Jawa, semasa zaman Hinduisme dan Buddhisme.
2. Wiracarita (Kepahlawanan)
Wiracarita yang terkenal di Indonesia diantaranya adalah Kitab Ramayana dan Mahabrata, dan mucul pula wiracarita yang digubah oleh pujangga Indonesia yaitu Mpu Sedah dan Mpu Panuluhyang disebut kitab Baratayuda; yang berisikan cerita keberhasilan Raja Jayabaya dalam mempersatukan kerajaan kediri dengan kerajaan Jenggala.
3. Kitab Hukum (Undang-undang)
Kitab yang dikarang oleh Patih Gajah Mada yang bernama Kitab Kutaramanawa yang dahulu digunakan sebagai dasar hukum di Majapahit. Kitab hukukm ini disusun berdasarkan kitab Hindu yang jauh lebih tua yaitu kitab Kutarasastra dan Manawasastra.


























Komentar
Posting Komentar